Fam Trip

Fam trip atau familiarization trip ini di adakan oleh Malaysia Tourism Board bagi travel agent yang tergabung dalam consortium untuk menjual Malaysia yang tengah gencar-gencarnya dengan Visit Malaysia Year nya di tahun 2007.

Loh ini kan udah 2008? 07-11 Feb 2008…. gak salah tuh?

Nggak salah, malah moment Gong Xi Fat Choi ini di gunakan oleh mereka untuk memperkenalkan lagi Malaysia ke seluruh dunia. Dengan acara yg dikemas dalam paket Open House Chinese New Year di Bintang Walk area 10 Feb 2008. PM Badawi hadir pada acara itu. Dan bersama rakyatnya merayakan Imlek sebagai suguhan acara Visit Malaysia Year lanjutan dari 2007. Bisakah anda bayangkan hal itu dilakukan oleh pemerintah dan dinas pariwisata Indonesia di Aceh, Ambon, Bandung, Padang, Kalimantan, Sulawesi, Sumatera?

Mundur dulu ke tanggal 07 Feb yah…..

Rombongan Batam yang terdiri dari 7 travel dan 1 media cetak berkumpul di terminal ferry Harbourbay untuk perjalanan ke Kota Bahru Kelantan Malaysia by Malaysia Airlines via Changi airport Singapore. Fyi…ticket ferry dan tax di tanggung Malaysia Tourism Board (MTB).

Sesampainya di Harbourfront Singapore kami sudah di tunggu oleh bus pariwisata untuk menuju Changi airport. Bus di bayar oleh MTB.

Sesampai di Changi kami menerima ticket Singapore-Kualalumpur-Kota Bahru dengan Malaysia Airlines. Ticket di tanggung oleh MTB.

Tiba di Kelantan, airport Kelantan sangat memadai dibandingkan dengan keadaan kotanya, jauh lebih bagus dari Polonia Medan. Bus sudah menanti untuk mengantar kami ke hotel Renaissance. Hotel yang lagi-lagi dibayar oleh MTB.

Diner serve at Hotel restaurant. Buffet diner with oyster dan kawan-kawan. My first time eating oyster, and demi Tuhan gak mau lagi deh…..biar aja dibilang kuno. Mending makan kimchi deh semangkok…dan sekali lagi diner yang mahal itu dibayar oleh MTB.

Diner selesai…kita tidur, dari Batam jam 08.00 tiba di Kelantan jam 22.00 waktu setempat.Capek. Sambil ngimpi di bantal berbulu angsa itu pikiranku melayang…..ada apa sih di Kelantan? Sampai begitunya pemerintah Malaysia ngundang kita melalui MTB…..02 malam di Kelantan.

08 Feb 2008

Morning arise, setelah makan pagi yang hemmmm…..ntah karena suatu apa kami harus balik hari ini ke KL, hotel full dan acara pembukaan Visit Kelantan Year tidak bisa kami ikuti. But, sebelum meninggalkan Kelantan kami diajak melihat toko perak kecil juga cara pembuatannya.Toko batik, Pasar Khadijah dan Pantai Cahaya Bulan. Suer deh semua gak ada kelebihannya. Sumpah….Karya peraknya jauh sekali jika dibanding dengan di Jogja atau Bali. Batiknya….aduh gak bisa deh disandingkan dengan batik kita. Corak, warna, desain dan jenis kain yang digunakan. Kita lebih kaya. Pasar Khadijah? Aku kurang jelas apa istimewanya pasar ini. Sama baunya dengan pasar lain di Indonesia. Pantainya? Aduh….kering, jalannya sempit, no view kecuali horison yang panjang sepanjang mata memandang.

Dibalik semua keterbatasan itu kekaguman menyeruak dihatiku. Dengan keadaan yang seperti ini….alangkah beraninya Malaysia menjual Kelantan. Berapa banyak uang yang mereka harus keluarkan untuk Fam trip? Yang mereka undang bukan dari Batam dengan 17 orangnya saja, tapi ada Singapore team yang berjumlah 47 orang, Italy team 4 orang, USA,UEA, Thailand, Laos, Philippine dan beberapa negara lainnya. Dari Europe mereka mengundang wartawan media cetak atau televisi. Fasilitas yang disiapkan pun bukan tanggung-tanggung. Berkelas. Best in town.

Btw, dalam perjalanan KL-Kelantan ada koper seorang peserta tour yang pecah, dan Malaysia Airlines segera menggantinya dengan yang baru ketika rombongan kembali ke KL. I mean …..wow….di Indonesia bagasi hilang pun tidak akan bisa di claim secepat itu.

Di KLIA kami diperkenalkan dengan seorang guide yang mengagumkan. Ms. Praba, India yang lahir besar di Johor Bahru dan the way she guides us, make me see, how she loves Malaysia. So gembar - gembor bangsa India tertindas di Malaysia tersapu ke laut lepas olehnya. She is the great guide i ever met!!! Two thumbs up for her and Malaysia. Jenius dan lawa betol care awak membentok image Malaysia truly Asia.

Di KL hotel Renaissance sudah menanti, mo tau lokasinya? Bukit Nanas. Hanya sepelempar batu dari KLCC. Dan Menara Petronas keliatan banget dari jendela hotel kamarku. Hard Rock Cafe KL hanya 5 menit jalan kaki, monorail station tepat di sebrang hotel. Best place to stay in KL. 10 menit jalan kaki dari hotel warung-warung makan murmer bertebaran. 5 ringgit bisa kenyang banget makan minum.

09 Feb 2008

Setelah sarapan pagi yang luar biasa….Free programnya kita gunakan untuk jajal KLCC, yah liat-liat aja sih daripada bengong di hotel nunggu acara seminar event-event yang akan diselenggarakan MTB di Grand Millenium Hotel yang berlokasi di bukit bintang, stttt rest room di lantai 2nya bener-bener fascinating, cozy banget…ada dua kursi untuk duduk sambil menunggu restroomnya vacant. Harumnya hemmm gak kayak WC, tembok cermin di restroom itu bisa bikin kita mengira ada ruang lain didalam cermin. Gileee

Sewaktu seminar dimulai, suasana tegang tidak terasa, setelah beberapa session tanya jawab, MTB memutar slide beserta new theme song untuk Visit Malaysia Year. Di saat ini…..hati gue bener-bener hancur, sakit, pedih, nyesek bercampur jadi satu. Aku tidak melihat kelebihan tourism Malaysia. Tidak alamnya, tidak seninya, tidak juga keberbauran etniknya. Yang terpampang saat itu dimataku adalah indahnya pantai Pulau Bali, ragamnya suku kita dengan budaya dan bahasa, cantiknya danau toba, bunaken, lombok, bangka island, situ patenggang……tapi semua itu seperti kepompong jika dibandingkan dengan upaya pemerintahan Malaysia untuk menjual negaranya. Usaha mereka seperti kupu-kupu…begitu berwarna, begitu cantik. Mataku berkaca-kaca menahan sesak di dada. Tuhan ….maafkan bangsaku, maafkan aku. Maafkan ya Bapa….

Coffee break yang disuguhkan panitia tak mampu menggugah selera makanku yg terbang terbawa berjuta sesal dan kecewa atas bangsaku Indonesia.

Diner time….aku tak berselera sama sekali, tapi akan aneh rasanya kalo semua pada makan aku bengong aja, so kucari ikan dan sayuran (mo ngurangin lemak yang makin bertambah karena makanan ala hotel yang selama beberapa hari aku nikmati) tapi…saat melihat team italy begitu bersemangat menyendokkan nasi ke piringnya dengan malu hati kusendokkan juga nasi kepiringku seadanya.

Sambil makan malam kami dihibur oleh group rebana melayu seperti lagu dan rentak alunan lagu dan rebana dari Manggar Belitung. Angklung dipertontonkan dengan begitu banyak lagu Indonesia di dalamnya, sekali lagi napsu makanku hilang. Jika seni rebana dan lagu Kelantan itu di sandingkan dengan rentak Saman dan alunan lagu,rebana, dan gitar Manggar akan luar biasa hasilnya…..

Aku saat ini menikmati semua Indonesiaku di negara orang lain. And they pay everything for me to see the show!!! Aku seperti ular sawah kekenyangan setelah melahap lembu, tak bisa bergerak kemanapun…..tersiksa banget banget. Seperti terjebak….

Malaysia….aku salut dengan usaha dan upaya Dinas Pariwisata dan Pemerintahan mu. Dalam keterbatasan kalian kemas kekurangan itu menjadi berlian.

Malaysia….terimakasih untuk membuka mataku sebagai insan pariwisata betapa tidak bersyukurnya aku akan bangsa ku yang begitu kaya sehingga terlena begitu dalam. Aku egois mementingkan diriku sendiri untuk dapat makan besok daripada memelihara menjaga mengelola apa yang sungguh negara lain iri untuk memiliki.

Bangsaku…..bangsa pilihan Tuhan…..biji mata, kekasih, tersayangnya Tuhan……apa yang harus kita lakukan untuk memajukan dunia kecil kita?

Bingung untuk meningkatkan pendapatan negara? Mari olah pariwisata. Majukan infrastruktur dan strukturnya. Habiskan uang negara untuk membangun pariwisata. Kita tidak perlu bikin pulau seperti Singapore, kita gak perlu bikin menara, bikin Ferris wheel, bikin jembatan ala San Fransisco. Kita gak perlu niru negara lain.

Let’s be our self. Ayo belajar mencintai Indonesia, bukan hanya dengan membeli buatan Indonesia tapi juga dengan membuang sampah pada tempatnya, menjaga barang-barang milik negara, menjaga alam punya kita, memelihara budaya leluhur dengan mempertandingkannya, menggabungkannya, menambahkan nilai jual padanya.

Apa yang dinas pariwisata lakukan untuk Visit Indonesia Year 2008? Tidak salahkah program ini? Ikut-ikutankah? Adakah dampaknya bagi dunia pariwisata bangsa? Naikkah tingkat huni kamar? Bertambahkah turis mancanegara yang masuk?

Kalo belum siap jangan luncurkan…habis uang kita sia-sia. Tidak tepat sasaran. Sudah layakkah Bandara Polonia untuk didarati pesawat luar negeri? Siapkah Bandara Aceh? Ambon? Irian? Kalimantan? Bagaimana tingkat keamanan negara saat ini? Jalan-jalan yang menuju objek pariwisata sudah layakkah dilewati bus 45 seater ? Manusianya sudah diajar untuk jujur, ramah, sopan belum?

Adakah pelaku pariwisata yang levelnya di akar sudah diikutsertakan dalam mencanangkan VIY 2008? Kita pelaku pasar….kita tahu lebih banyak apa yang dibutuhkan oleh wisatawan.

Kalau kita mau maju ayo mulai dari bawah karena yang diatas entah tengah memikirkan apa lagi dari negara ini.

Kalau negara tidak bisa apa-apa mari kita yang bisa untuk bergerak. Negara adalah rakyat, tanpa rakyat tidak akan ada negara. Rakyat yang mau berjuang untuk rakyat, untuk kepentingan bersama. Untuk sebuah Indonesia.

I’m 34 so i think… saya tidak idealis, naif atau cap lainnya.

Sejujurnya sering sekali rasa malu memberati wajahku ketika mata bersiborokan dengan mata milik negara lain. Bisa kah kita hilangkan rasa malu ini? 

Saya insan pariwisata, saya mau berbuat melalui dunia pariwisata entah itu sedikit atau tidak ada artinya. Saya hanya tidak sanggup melihat karunia Tuhan tersia-siakan di tanah perjanjian ini. Tanah Indonesia.

4 Responses to “Fam Trip”

  1. Sammy 사무엘 Says:

    jadi ingat di Cawang bertahun-tahun silam, kita bernyanyi:

    “Lihat reruntuhan tanah ini, Kau semesta langit.. maha besar kasih setia..”

    You love the nation so much.. padahal kalau bicara Indonesia, kita harus bertanya sungguh-sungguh: “is there such a nation?”

    Teman saya belum lama ini berani bertaruh, 20 tahun lagi, Indonesia hanya akan tinggal sejarah..

    “Di tanah kita yang hancur dan runtuh ini, bunga suci akan bermekaran..”

  2. Boy Says:

    Thanx ya..
    masih ada orang yang punya mata berbeda. memang perlu melihat bangsa kita dari tempat lain.
    pandangan lu tentang kita dari segi pariwisata. gw setuju banget. ngak usah berandai-andai. (tadinya gw mau bilang seadainya semua orang punya pandagan seperti lu). u know what. ternyata kita ngak sendiri. gw dah ketemu banyak orang yang bisa liat seperti yang lu liat. yang melihat seperti yang lu lihat.
    jadi kita ngak sendirian. kita ngak berjuang sendiri buat bangsa ini. teruskan perjuangan lu mengembangkan pariwisata di indonesia. ada rekan-rekan lain yang punya pandangan yang sama di bidang lain. keep de faith, dude. keep in touch and c u in Rendezvous

  3. yuliana Says:

    Miris? mhmmm, sama k’…kirain selama perjalanan itu aku aja yg gondok lihat program yang disampikan. Sebenarnya bukan gondok sih, jujurnya sih, aku salut ama pemerintah Malaysia, dengan keterbatasan ‘’seni budaya” yang mereka miliki, pemerintahnya sangat mendukung masyarakatnya yang aktif dalam berkesenian, meskipun kesenian yang dimainkan punya kita, hikkk, …
    Dengan pedenya ya, mereka mempersembahkan angklung dihadapan undangan yang diantaranya banyak orang Indonesia. Nggak hanya angklung, kain batik juga. Udah jelas-jelas mereka tahu teknik batik yang mereka kenal bermula dari Indonesia, tapi waktu aku tanya dengan Pak Nordin yang punya usaha batik paling besar di Kelantan Malaysia itu, awalnya nggak ngaku kalau batik yang dibuatnya ada pengaruh dari Indonesia, akhirnya keluar juga teknik bagaimana caranya supaya dari mulutnya sendiri, ia mau mengakui kalau batik yang dia buat ada pengaruh dari batik Indoensia, ”Ia sih memang batik dari Indonesia, tapi kami berusaha membuat sesuatu yang beda,” uhhhhhhhh,..bedanya mereka kurang bagus iya….:)
    Karena Batik kita punya cerita dari motif batik yang dibaut pembantik. Nah dia, kagak ngerti batik jenis apa yang dibuatnya. ”Motif yang kami buat, berusaha menyesuaikan dengan peminat yang ada,” …kata Nordin saat berusaha ngeles waktu ditanya ttg filosofi motif batik yang mereka buat.
    Apa susah dan ruginya sih mereka mengakui kelebihan yang memang dimiliki Indonesia….
    Kalau dipikir-pikir nih k’, mereka nggak punya malu atau memperolok kita ya…
    Misalnya saja, waktu mempersembahkan angklung, mereka sama sekali tidak menyebutkan sejarah kesenian tersebut dari Indonesia, uhhhhh…padahal persembahan itu disaksikan media dari penjuru dunia yang mungkin akan menyebutkan dalam tulisannya, angklung salah satu kesenian malaysia yang unik, :( Aku perhatiin undangan yang hadir saat itu, sangat antusias ketika angklung dipersembahkan,….menyedihkan:(
    Meskipun sempat protes dan mempertanyakan masalah tersebut dengan direktur promosi wisata mereka, tapi tetap aja nggak puas ama jawaban mereka yang nggak jelas. Masa mentang-mentang nenek moyang mereka dari Indonesia, seolah-olah budaya tersebut punya mereka juga, menyebalkan…
    Kalau menurut aku sih nggak masalah, kalau mereka mempersembahkan budaya kita didepan tamu dari berbagai dunia, tapi sebutin dong asalnya dari mana, tapi aku sempat loh k’ bilang sama jurnalis Thailand yang hadir waktu itu, kalau angklung itu dari Indoensia, tapi nggak tau juga apa ada ngaruhnya…
    Seharusnya pemerintah kita memang harus lebih aktive dan lebih berusaha menjaga kekayaan kesenian yang dimiliki, termasuk juga kita-kita ini. Ya kalau kitakan terbatas dengan cara kita sendiri,…., selain ngomel sendiri dan kesal dalam hati, salah satunya ya ngungkapin di blogs k’ vita kali yee…hehehe.
    …..uhhh dasar Malingsia

  4. shinevita Says:

    :) inget loh jeng dirimu dibayar untuk bicara lain loh….hahaha.
    Menurutku kita liat kedalam aja sih, bangsa kita aja yg gak care….but yah udah kita mulai dari kita aja kale ya biar gak malu-maluin dihari berikutnya. Tks for your comment

Leave a Reply